Pelanggaran Hak Asasi

Posted September 7, 2008 by jaka
Categories: albayan

Oleh Drs,.H. Ameer hamzah

nDan Allah tidak menghendaki

berbuat kezaliman terhadap

hamba-hamba-Nya.(QS. Ghafir:31)

nTakutlah kalian kepada perbuatan zalim

Sebab kezaliman itu merupakan kegelapan

di hari kiamat.(Hadits)

Keinginan untuk memperpanjang kekuasaan, banyak penguasa dunia menghalalkan segala cara. Undang-undang yang dibuat secara demokratis ditafsirkan sendiri sesuai dengan nafsu jumoh(serakah) nya. Lewat-tangan besi mereka menindas rakyat, melanggar hak-hak yang paling mendasar dari manusia kecil yang sebenarnya rakyatnya sendiri. Mereka membunuh pria, memperkosa perempuan dan membiarkan yatim anak-anak bangsa.

Sepanjang sejarah kemanusian pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) berlangsung terus. Kejamnya serigala tidak sekejam manusia pembunuh. Pembunuhan pertama adalah Qabil anak Nabi Adam yang membunuh saudaranya sendiri Habil. Kemudian ia memerkosa istri saudaranya itu. Ia juga tercatat sebagai kufur pertama terhadap ajaran Tuhan. Itulah berita kitab suci yang kita baca dalam Taurat, Injil dan al-Quran.

Semua agama, baik Ajaran Ardhy maupun Samawy sepakat, bahwa pelanggaran HAM itu perbuatan yang paling biadab. Pelanggar HAM itu akan menerima akibatnya, hukum karma tetap berlaku. Di dunia saja kutukan akan diterima, apalagi di akhirat kelak. Allah menampakkan kekuasaan-Nya kepada kita. Bagaimana nasib akhir yang dialami pelanggar HAM.

Raja Fira’un terkutuk karena melanggar hak-hak asasi Nabi Musa as. Dia terpaksa menelan air laut dan tewas terhina. Tuhan mendamparkan mayatnya di pantai laut merah. Bangsa Yahudi dan Romawi terkutuk karena melanggar hak-hak asasi Nabi Isa as. Mereka pernah kelaparan dan diusir bangsa lain dengan penuh kehinaan. Kaum Nazi Jerman pernah membantai mereka, sebab Yahudi dianggap pembunuh Isa.

Abu Lahab dan Abu Jahal Cs juga terkutuk karena melanggar hak-hak asasi Nabi Muhammad dan umatnya. Pembunuh Umar bin Khattab, Usman bin Affan telah mengalami nasib yang paling menyedihkan di akhir hayat mereka. Yaziz bin Muawiyah yang menyuruh panglimanya menghabisi Husein bin Ali, berselang beberapa bulan, ia mati diinjak kudanya. Gubernur Kufah Ubaidillah bin Ziad yang memerintah panglimanya menghabisi cucu Nabi itu, juga mati dibunuh oleh Gerakan at-Tauwabun yang dibentuk rakyat Kufah. Mayat Ubaidillah bin Ziad dicencang dan daging-dagingnya diberikan kepada anjing.

Seharusnya manusia mengambil i’tibar dan i’brah dari sejarah masa lalu. Perbuatan yang melanggar hukum pasti akan tertimpa akibatnya kepadanya. Tidak seorangpun bisa lolos dari hukum karma. Karena itu hargailah sesama manusia, sebab manusia itu telah dimuliakan oleh Tuhan yang mencipta kita manusia

Berhala

Posted September 7, 2008 by jaka
Categories: albayan

Oleh Drs H Ameer Hamzah

Dan bacakanlah kepada mereka

kisah Ibrahim

Ketika ia berkata kepada

bapaknya dan kaumnya

Apakah yang kamu sembah?

(QS.26:69–70)

Pertanyaan Nabi Ibrahim kepada orang tuanya dan kaumnya yang demikian berani itu dijawab oleh mereka: Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantisa tekum menyembahnya (QS.26:71). Jawaban yang aneh itu mengejutkan Ibrahim. Pertanyaan susulan segera dilontarkan; Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa kepadanya? atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?

Mereka menjawab; Bukan karena itu sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian (QS.26:74). Ibrahim berkata; Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah? kamu dan nenek moyangmu yang dahulu. Karena yang sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.(QS.26:77).

Itulah dakwah tegas dari Ibrahim. Ia berani menyampaikan yang hak walaupun pahit kepada orang tuanya dan kaumnya. Karena keberanian itu Ibrahim menerima risiko, antara lain dibakar dalam api unggun, (meski tidak terbakar), diusir oleh ayahnya dan kaumnya dari negeri Babilonia.

Zaman sekarang dalam kalangan umat Islam tidak ada lagi berhala untuk disembah, namun masih banyak yang menjadikan agama sebagai berhala, kursi kekuasaan sebagai berhala, harta kekayaan sebagai berhala, televisi dan parabola sebagai berhala, mobil mewah sebagai berhala, dan masih ada sejuta berhala ikutan kaum muslimin, terutama dalam cara berpikir dan mengambil sikap.

Berhala-berhala dalam bentuk baru tersebut tentu lebih bahaya dari berhala sembahan makhluk primitif. Karena itu umat Islam perlu berani meninggalkan berhala yang menyelimuti akidah mereka itu. Mari menuju Allah yang Maha Kuasa, beriman dan bertaqwa yang tulus kepada-Nya. Allah hanya menerima ibadah hamba-Nya yang ikhlas, dan menolak semua yang berbau syirik.

Mari kita mengikuti langkah-langkah Ibrahim yang berani menghancurkan berhala. Langkah-langkah Muhammad dan langkah orang-orang yang beriman semunya. Bukan langkah mereka yang sesat dan durhaka kepada ajaran Allah SWT.

artikrl ini juga dapat di nikmati di harian waspada edisi aceh

halooo apa kabar

Posted September 7, 2008 by jaka
Categories: Kiat

bagaimana kabarnya hari ini

bagaimana puasanya?

bagimana pula isi kantoong anda? amankah

kalo ada lebih jangan lupa menabung. kata orang bijak orang sukses adalah orang yang mampu menyimpan lebih banyak uang dari pada membelanjakannya.

Untuk pertemuan di Rumah Dunia (Serang, Banten)

Posted December 3, 2007 by jaka
Categories: Uncategorized

Oleh Goenawan Mohamad

27 Nopember 2007

Saya akan mulai percakapan ini dengan mengutip sebuah sajak Subagio Sastrowardojo:

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Seorang penyair – tapi tak cuma seorang penyair — akan mengenal keniscayaan kata: praktis, hanya melalui bahasa-lah kita bisa menangkap dunia. Bahkan “ruang kosong dan angin pagi” yang ada di balik jagat yang “tersusun dari kata” tak hanya kita kenali karena mata kita melihat ruang itu dan kulit kita tersentuh oleh desau angin itu. “Ruang kosong dan angin pagi” kita kenali karena kata telah menamai benda ini atau itu, menyebut perasaan ini atau itu. Dengan kata itulah, atau lebih tepat dengan kata sebagai “penanda”, kita dapat membedakan ruang kosong dengan celah, angin dengan badai, pagi dengan siang. Dari pembedaan itu, kita memberi dan mendapatkan arti.

Sebab itu, memang ada benarnya, “asal mula adalah kata”. Sangat mungkin Subagio Sastrowardojo meminjam frase itu dari Kitab Injil. Dalam Injil, “pada mulanya adalah kata” berarti “pada mulanya adalah logos”, dan “logos” berasal dari kata Yunani lagein, yang berarti “menghimpun.” Menurut para pakar etimologi, penyair Homeros konon menggunakan kata kerja itu untuk menggambarkan aktivitas menghimpun makanan, senjata, tulang belulang, dan orang-orang. Tersirat di situ adalah proses memilah-milah dan menggolongkan: panah dan tombak akan diletakkan dalam satu himpunan, roti dan daging kambing dalam himpunan lain. Tampak, bahwa kriteria pemilahan yang saya contohkan itu berdasarkan satu saja dari ciri benda itu, yakni fungsinya: “panah” masuk dalam himpunan “senjata” karena dipakai untuk membinasakan musuh, “paha domba” masuk dalam himpunan “makanan” karena dipakai untuk disantap.

Dari kata lagein yang dijadikan kata benda logos itulah berasal istilah yang kita kenal sampai sekarang, “katalog”, yang asal mulanya kita temukan dalam bahasa-bahasa Eropa: “catalogue” (Prancis) atau “catálogo” (Portugis dan Spanyol).

Tiap penyusunan katalog, tiap penggolongan atau klasifikasi, mengandung suatu proses abstraksi: sebuah benda hanya diambil satu seginya saja, misalnya segi kegunaannya; segi-segi lainnya (umpamanya bentuk, warna, asal usul) diabaikan. Dengan lagein orang menggolongkan — dan sekaligus membedakan — satu benda dengan benda-benda lain, semuanya melalui abstraksi, semuanya hanya ditilik dari salah satu seginya.

Abstraksi adalah hasil analisis: menjelang proses abstraksi, sebuah benda diurai ke dalam aspek-aspeknya, tak lagi kita temui dalam totalitasnya. Dari sini, konsep lahir. Konsep “anjing” kita kenakan kepada sehimpun hewan yang sebenarnya beraneka-ragam, tapi konsep itu mencoba merangkum ke-“anjing”-an hewan-hewan itu. Tapi apa itu yang disebut “anjing” tak pernah dapat dirumuskan sebenarnya; ia hanya dikenali dari pembedaan dengan sesuatu yang lain.

Maka dalam tiap logos tersirat sebuah hasil analisis, abastraksi, identifikasi, dan pembedaan. Dengan kata lain, kata sebagai “penanda” atau “nama” adalah hasil konstruksi manusia – tapi yang berangsur-angsur justru jadi sesuatu yang ikut membentuk manusia.

Saya ingat satu adegan dalam film kung fu yang dibintangi Jet Li, Fearless. Dalam salah satu adegan, Jet Li, yang berperan sebagai juara silat Ho Yuanjia, dijamu minum teh oleh karateka Jepang, Anno Tanaka (dimainkan oleh Nakamura Shido) . Dengan bangga Tanaka bertanya kepada Ho, apakah jagoan Cina itu tahu ada bermacam-macam teh di dunia. Ho menjawab, “Tidak.” Ketika Tanaka menyebutkan nama beberapa jenis teh yang dikenal orang Jepang, Ho menyahut: “Tapi yang membeda-bedakan itu adalah manusia, bukan tehnya sendiri”.

Dengan satu kalimat yang sederhana itu agaknya Ho ingin mengingatkan, bahwa makna ditentukan dengan sewenang-wenang. Kita memang mengerti: “gyokuro,” nama untuk jenis teh yang dipetik ketika daunnya baru saja muncul, bisa punya makna lain, misalnya ketika seseorang menemukan bunyi atau huruf-huruf “gyokuro” di sebuah puisi yang menggambarkan embun. Dengan satu kalimat sederhana, Ho, sang pesilat, telah menyampaikan sebuah kritik, seperti Derrida, kepada “logosentrisme” . Makna begitu tak pasti, dan jika kita memastikannya, kita sendiri akan dikuasainya. Mungkin kritik yang sama membayangi sajak Subagio Sastrowardojo yang saya kutip di atas. Sajak itu mengandung ironi dan sekaligus rasa murung:

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
Bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

Saya katakan “ironi” dan “rasa murung”, karena bait terakhir itu: “bersembunyi” menyarankan ketakutan, ketidak-jujuran, kengganan tampil terus terang. “Menenggelamkan diri” menyarankan kehilangan, pembinasaan, dan kematian. Walhasil, sajak Subagio bukan merayakan “kata” sebagai pembebas, tapi kata sebagai keniscayaan, sesuatu yang tak terelakkan, walaupun tak dengan sendirinya menyenangkan. Kita ingat kalimat di atas: “Nasib terperangkap dalam kata.”

Mungkin itu sebabnya seorang sastrawan Perancis, Maurice Blanchot, mengatakan: “menulis adalah mematahkan ikatan antara kata dan diriku”, “menulis adalah menarik bahasa dari dunia.”

Dalam tafsir saya, yang dihasratkan Blanchot adalah membebaskan diri dari keadaan yang disebut Subagio “terperangkap dalam kata” atau yang dikatakan Nietzsche sebagai “penjara bahasa.”

“Perangkap” itu memang sudah lama ada dalam diri kita. Seorang anak diberi nama oleh ayahnya, dan dengan itu ia membayangkan diri mempunyai satu identitas yang tetap – satu penanda yang akan melekat pada KTP-nya, bahkan pada batu nisannya. Tapi sebenarnya, “nama” adalah semacam pembatasan, semacam larangan yang tak boleh dilanggar, agar dunia dan percakapan tidak kacau balau. Hanya kemudian kita tahu: ada dalam diri kita yang tak tertangkap oleh sebuah nama.

Kata-kata Juliet dalam Romeo and Juliet yang sudah jadi klise itu tetap benar:

“What’s in a name?
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”

[“Apa arti nama?
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]

Kita ingat, bahwa dalam lakon Shakespeare itu, Romeo tak boleh menikah dengan Juliet, karena mereka masing-masing punya nama keluarga yang menandai dua kubu yang bermusuhan. Sekali lagi, ketika nama jadi hukum, jadi pembatas yang meringkus manusia dan mereduksi dunia, sebuah laku pembebasan mau tak mau diperlukan.

Puisi adalah sebuah ikhtiar ke arah pembebasan itu. Itulah sebabnya puisi membuka ruang artikulasi hingga longgar dan luas, sebuah l‘espace littéraire, “ruang literer,” dalam pengertian Blanchot. Puisi tak berangkat dari nama yang menyempitkan identitas, yang membuat arti beku. Puisi menampik konsep yang selesai. Konsep yang pasti dan selesai memang memungkinkan kita menguasai hal ihwal, kita tak merasa dalam khaos, kekaburan, ketidak-stabilan. Tapi niat untuk menguasai dunia mau tak mau akan menjerat manusia. Maka puisi lahir. Puisi hidup dengan dan dari metafora, yang mencoba menangkap hidup dalam kekayaannya yang tak terhingga.

Mungkin itu sebabnya metafora sangat subur dalam khasanah sastra pra-modern: ketika bahasa belum disibukkan oleh konsep dan definisi, ketika dunia masih tampil sebagai pesona, bukan sebagai obyek ilmu pengetahuan, teknologi, dan kapital. Tak mengherankan bila metafora (kiasan dan perumpamaan) tersebar dalam pepatah dan tembang yang berkisah. Saya kutip satu contoh dari salah satu cerita Panji yang terkenal, Wangwang Wideya:

Saksana rahina umijil arka kumram angrandinima yaya cinirup sawang strya angliga panepi

(Segera siang datang dan surya yang suci muncul, memerah gemilang seakan-akan dicelup warna, bagaikan seorang perempuan yang membuka pinggangnya) .

Tampak, dalam frase itu, yang sensual lebih muncul ketimbang yang serebral, pancaindera lebih berperan ketimbang logos. Kita seakan-akan kembali mengenali, bahwa di luar logos, di luar kata yang merasa berkuasa, masih ada – seperti dalam sajak Subagio Sastrwardojo tadi – “ruang kosong dan angin pagi”. Ada hal-hal yang belum ditaklukkan oleh kata, oleh nama yang diberikan sang bapak sebagai hukum, oleh apa yang disebut “tata simbolik.”

Memang di sana ada khaos. Tapi saya kira, puisi adalah kesediaan kita untuk menerima chaos sebelum logos. Dalam chaos, kita menemukan kembali kebenaran sebagai proses, bukan sebagai kesimpulan. Kesimpulan (dari kata “simpul”, yang mengikat). mengimplikasikan adanya kekuasaan untuk menetapkan dan mengikat, adanya pemaksaan untuk menutup tafsir. Di hadapan wacana yang seperti itu, puisi adalah keterbukaan kepada yang tak rapi terumuskan, yang tak ternamai. Terkadang itu berarti keterbukaan kepada hening yang bukan kosong, kepada suwung yang sebenarnya berisi.

Ada satu sajak Subagio lain yang saya kira menegaskan hal itu:

Apakah hasil pembicaraan? Pertengkaran
mulut atau bual sombong sekedar membenarkan perbuatan atau
omong kosong mengisi waktu tak menentu.
Ah, baik diam dan merasakan keramahan
pada tangan yang menjabat dan mata merindu
Dalam keheningan detik waktu adalah pilu yang
menggores dalam kalbu.

Memilih diam dan membiarkan gerak sebelum wacana dikuasai logos, memilih diam dan membiarkan tubuh menyampaikan isyaratnya, memang tak selalu membuat hal jadi jelas. Tapi kita setidaknya kita bisa lebih bisa tahu, bahwa kita tak harus “mengenggelamkan diri tanpa sisa” dengan “bersembunyi di belakang kata”. Kita selalu bersisa. Dengan itu pula, kita bisa merdeka.

Siklus Berita

Posted November 29, 2007 by jaka
Categories: New

Partai Gam berdiri, dan hampir semua media meniupkan terompet ‘nasionalisme’ yang sama: harus dibubarkan karena berbau separatisme.

Kawan-kawan wartawan yang meliput atau mengikuti konflik seperti Aceh, Timor Leste, Ambon, Papua, Poso, bahkan Ambalat, tentu sudah mahfum bahwa ini sebuah terompet ajakan bela negara yang sebenarnya tidak serius-serius amat.

Siklusnya akan selalu seperti ini:

1. TAHAP ‘MENGOMPORI’ – Media memompakan jargon-jargon nasionalisme ke publik melalui pemberitaan dengan
mengutip para pejabat sipil atau militer, atau membuat editorial yang ‘heroik’ seperti Suara Pembaruan.

Di tahap ini, wartawan-wartawan di lapangan akan dikerahkan oleh kantornya untuk belanja aneka komentar
(talking news), terutama yang mendukung editorial policy mereka. Ruang redaksi akan meramu bahan-bahan
ini menjadi berita yang ‘patriotik’. Satu dua disisipkan komentar seperti Indra Piliang untuk mengesankan: everything has already cover both side.

2. TAHAP MENG-EKSKALASI – Setelah opini publik dan pengambil keputusan terbentuk (bahwa Jakarta harus
mengambil tindakan keras terhadap apapun yang berbau separatisme) , media akan mulai membenturkannya dengan
‘pihak lawan’.

Di tahap ini, wartawan mulai belanja talking news dari pihak ‘lawan’. Statement diadu dengan statement. Maka
atmosfir media akan menjadi riuh rendah. Media –seperti biasa– akan mengutip bagian-bagian terpedas
dari setiap komentar berbagai pihak.

Dalam kasus Partai GAM di Aceh misalnya, jarang sekali redaktur yang melengkapi laporan wartawannya dengan
membuka sendiri isi kesepakatan Helsinki atau UU PA, kecuali mengutip dari mulut orang yang sudah dibumbui
dengan intepretasi masing-masing.

Di fase ini akan muncul wacana di media tentang evaluasi terhadap kesepakatan perdamaian. Yang lebih parah, mungkin akan ada yang memainkan aspek-aspek geopolitik atau demografi politik yang membenturkan orang-orang Aceh di pantai barat dengan pantai timur (sinerji dengan operasi intelijen) dengan membuat judul misalnya: “Lambang Partai GAM Dibakar Massa di Meulaboh dan Takengon”

3. TAHAP MENYORAKI (Cheer Leadering) – Kalau situasi sudah panas, maka media tinggal menjadi pemandu sorak, untuk mengondisikan tahap konflik yang lebih besar, yaitu konfrontasi fisik.

Sampai di sini media mulai berani menggulirkan atau mempublikasikan hitung-hitungan kekuatan fisik masing-masing pihak. Media akan mulai mengutip siapa saja yang mau berbicara tentang penambahan atau pengiriman pasukan. Media akan mengkondisikan polisi (melalui mulut pejabat) untuk mulai menangkapi orang-orang tertentu.

Tentu saja harus cover both side, sehingga media juga memberitakan reaksi dari kelompok yang tokoh-tokohnya mulai ditangkapi. Sekarang api di dalam sekam sudah terbuka…

4. TAHAP MENIKMATI – Inilah yang ditunggu-tunggu media: konflik fisik terbuka. Massa pendukung partai lokal beradu dengan aparat keamanan, atau justru perang horizontal dengan massa penentang partai lokal.

Lebih beruntung bagi media, bila ternyata ada senjata yang digunakan pihak partai lokal. Maka media akan menulis: “Ternyata GAM Masih Menyimpan Senjata”

Dan seorang reporter televisi Jakarta akan berdiri di depan kamera dengan kalimat: “Pemirsa, seperti sudah KITA duga, ternyata 813 pucuk senjata yang diserahkan GAM, belum mencerminkan seluruh kekuatan MEREKA.”
5. TAHAP PANEN – Di tahap ini, media akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk meliput episode baru konflik fisik. Inilah masa panen. Panen berita, panen rating, panen jenjang karir, panen prestise dan gengsi.

Wartawan berlomba mendapatkan cerita atau gambar yang paling berdarah-darah.

6. TAHAP BOSAN – Bila perang berlarut-larut, publik pun mulai bosan. (Contoh: sebuah bom yang meledak di pasar kota Baghdad dan menewaskan 50 orang, sudah dianggap berita membosankan. Padahal di awal perang, semua media dan pemirsanya mengamati perkembangan menit per menit).

Di tahap ini, satu per satu media akan angkat kaki dari daerah konflik dengan berbagai dalih: rating mulai turun, pembaca mulai bosan, budget peliputan mulai menipis, wartawan mulai jenuh, dan –ini dia– ADA BERITA LAIN YANG LEBIH MENARIK: gunung meletus,Lumpur Lapindo, interpelasi, konvensi presiden dari partai anu dlsb.

7. TAHAP MENELANTARKAN – Konflik terus terjadi. Setiap hari ada orang yang mati dalam jumlah yang bisa dihitung dengan jari. Maka lengkaplah sudah bagian tragis dari siklus ini: perang berkepanjangan dengan korban yang tidak mencolok mata, tapi terjadi setiap hari.

Media sudah melupakan peristiwa berdarah sehari-hari yang terjadi di medan konflik. Berita benar-benar sudah tidak ada di halaman satu atau segmen pertama.
Tajuk Rencana atau Editorial sudah membicarakan hal yang lain. Konflik sudah dilupakan orang ramai. Tapi di daerah konflik, orang mati setiap hari.

Para wartawan yang terlibat dalam setiap tahapan di siklus ini, barangkali juga sudah lupa nama tempat, narasumber, dan kejadian-kejadian tertentu yang pernah diliputnya.

Lupa itu terus menjadi kutukan (atau justru anugerah) sampai suatu saat ada kasus serupa, dan dia mengulangi hal yang sama…

salam,

dandhy

NB: dan bila konflik yang terabaikan itu mulai
memasuki tahap perundingan damai, maka media akan
kembali mengutip permadi (ini bukan nama orang, tapi
nama sebuah varian dari ideologi nasionalisme)

Kiat Menulis Bila……….

Posted November 29, 2007 by jaka
Categories: Kiat

Bahkan penulis yang mahir sering menghadapi “writer’s block”–kebuntuan menulis. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi ini? Berikut sejumlah kiat sederhana:

SIMPAN TULISAN FAVORIT ANDA
Simpan tulisan Anda yang terbagus menurut Anda. Baca kembali ketika Anda menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri sampai tak berdaya menulis. Ini akan mengembalikan rasa percaya diri yang akan mendorong Anda untuk mulai menulis.

UBAH SUDUT PANDANG
Cobalah untuk melihat apa saja yang Anda tulis dari sudut pandang berbeda untuk sementara waktu. Ini akan membuat Anda menilai suatu masalah secara obyektif dan secara kreatif sekaligus, serta memacu dorongan untuk menulis.

AMBIL JARAK
Seringkali Anda harus menyisihkan tulisan secara fisik dan membiarkan alam bawah sadar Anda “mengerjakan” tulisan itu. Pergilah berjalan-jalan, atau mengerjakan apa saja yang lain, dan kembalilah setelah segar.

RUNTUHKAN KERUTINAN
Coba menulis pada waktu yang berbeda dari kebiasaan Anda, makan direstoran tradisional yang baru dibuka, belanja di pasar yang berbeda atau mengambil rute lain ketika pulang ke rumah. Melakukan sesuatu secara berbeda memungkinkan Anda untuk melihat masalah secara baru dan mengeksplorasi pengalaman baru yang tidak pernah Anda lakukan.

GANTI ALAT TULIS ANDA
Jika Anda biasa menggunakan komputer pengolah kata, coba menulis dengan mesin ketik atau tulis tangan.

UBAH LINGKUNGAN KERJA
Temukan tempat baru untuk menulis. Parkir mobil Anda di tempat dengan pemandangan indah dan mulailah menulis. Atau menulislah di taman dekat rumah Anda sekadar untuk membuat perubahan suasana.

BICARALAH KEPADA ANAK-ANAK
Sungguh, cobalah bicarakan topik yang Anda tulis pada anak-anak! Bahkan jika mereka tidak sepenuhnya memahami subyek yang Anda katakan mereka umumnya memiliki pendapat yang unik dan seringkali bisa membantu Anda melihat sebuah topik dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

[Disarikan dari Quantum Learning, Bobby de Porter]

Pramuka Abdya

Posted November 26, 2007 by jaka
Categories: New

jaka_akmal-dan-pramuka.jpg

Senja Di Ujong Serangga

Posted November 26, 2007 by jaka
Categories: New

perahu-pakwo.jpg

Suasana senja di Ujong Serangga.

Wilayah ini terdapat di Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Pantai Ini berada di Pantai Barat Aceh. Warga dan nelayan disana sangat ramah pada pendatang.

HYPNOTIC WRITING

Posted November 26, 2007 by jaka
Categories: Kiat

Penarkah Anda membaca buku atau artikel, yang membuat Anda seolah-olah  lupa segalanya, dan sebaliknya asyik tenggelam dalam isi buku atau  artikel itu? Jika Anda pernah mengalami hal yang demikian, kita katakan di  sini bahwa isi buku atau artikel itu telah “menghipnotis” kita.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara kita menulis, untuk menghasilkan  efek yang bisa memukau pembaca semacam itu? Dari sinilah kita kenal  cara penulisan yang dinamakan “hypnotic writing,” berdasarkan konsep  yang diutarakan John Vitale dalam bukunya: Hypnotic Writing, How to  Seduce and Persuade Customers with Only Your Words (Penerbit John Wiley &  Sons, Inc, Hoboken, New Jersey, 2007).

Hipnotis yang dimaksud dalam Hypnotic Writing ini adalah segala sesuatu  yang berhasil memancang atau menarik perhatian kita.

Sebuah film, buku, artikel, iklan, atau advertorial yang baik juga  mampu bersifat seperti menghipnotis, yakni memikat perhatian pembaca dari  awal sampai akhir tulisan.

Di sini kita tidak bicara tentang hipnotis yang memanipulasi pikiran,  atau membuat orang tertidur dan kehilangan kesadaran, melainkan justru  menghibur khalayak. Hipnotis ini tidak bersifat memaksa orang untuk
melakukan hal-hal tertentu.

Contoh:
·        Penampilan penyanyi Britney Spears di panggung itu
“menghipnotis” penonton. Tetapi tak semua orang akan membeli kaset/CD-nya.
·        Kisah Harry Potter membuat seluruh dunia terpukau. Tetapi tak
semua orang akan membeli bukunya.

Hypnotic writing adalah sebuah alat yang berguna dalam memasarkan  produk atau jasa tertentu. Namun, ia tidak mengontrol orang dan tidak  memberi kekuasaan pada siapapun untuk menyuruh khalayak melakukan hal-hal
yang mustahil.

Dalam pemasaran (marketing), hypnotic writing akan memberi kita  keunggulan tertentu dibandingkan para kompetitor. Tetapi, jika hypnotic  writing itu digunakan untuk menjual produk-produk yang memang berkualitas
buruk, hypnotic writing itu tak akan ada gunanya.

Definisi Hypnotic Writing:

“Hypnotic Writing adalah penggunaan kata-kata yang secara sengaja ditujukan untuk mengarahkan orang ke suatu keadaan mental yang terfokus,  di mana mereka terdorong atau terbujuk untuk membeli produk atau jasa
yang Anda tawarkan.”

Hypnotic writing adalah sejenis “hipnotis dalam keadaan terbangun.” Pembaca tidak kehilangan perhatian, tetapi justru terfokus  perhatiannya pada tulisan yang kita buat.

Singkatnya, esensi hypnotic writing bukanlah tentang manipulasi, tetapi  tentang komunikasi. Yakni, bagaimana Anda dapat berkomunikasi secara  lebih baik dengan para pelanggan, sehingga Anda dapat lebih baik pula
dalam membujuk mereka untuk membeli produk dan jasa Anda.

Lantas, bagaimana strateginya untuk mempraktikkan hypnotic writing
tersebut?
Lima langkah ke arah Hypnotic Writing:
1.      Niat: Arahkan pikiran Anda.
2.      Riset: Isi pikiran Anda.
3.      Kreasi: Curahkan pikiran Anda.
4.      Tulis ulang: Pertajam pikiran Anda.
5.      Menguji (testing): Latih pikiran Anda.

Niat: Arahkan pikiran Anda.
Niat berarti menetapkan tujuan atsau hasil yang diharapkan dari tulisan  tersebut. Buatlah serinci mungkin. Anda bukan sekadar ingin membuat  tulisan buat iklan. Semua orang bisa membikin tulisan iklan. Tetapi Anda
menginginkan tulisan iklan, yang berhasil menarik pembeli, sehingga  terjual barang atau jasa sampai jumlah tertentu.

Riset: Isi pikiran Anda.
Riset berarti sebelum menulis, Anda harus mempelajari dan memahami  betul barang/jasa yang akan Anda tulis. Anda tentu tak mungkin menulis  iklan tentang mobil Toyota Avanza, sebelum Anda mengetahui spesifikasi  Avanza tersebut, kelebihannya dibandingkan mobil merek lain sejenis,  hal-hal baru yang tak terdapat di mobil merek lain, dan sebagainya. Anda  perlu melihat mobil itu, merasakan bagaimana rasa ketika mengendarainya.

Tokoh periklanan ternama, David Ogilvy, pernah membuat satu kalimat  iklan yang sangat legendaris, setelah membaca manual mobil yang Akan ia  buat naskah iklannya. Yaitu: “At 60 miles an hour the loudest noise in this new Rolls-Royce comes from electrick clock.” Dahsyat, bukan?

Kreasi: Curahkan pikiran Anda.
Kreasi berarti produksi atau menghasilkan suatu produk (tulisan). John  Vitale selalu menulis sebuah naskah secara cepat. Tetapi ingat,  naskah  itu baru draft pertama, bukan hasil final. Setelah menulis draft  pertama itu, baru ia membaca ulang dan berusaha menyempurnakannya.

Ide dasarnya adalah Anda harus menjalankan dua fungsi, yakni sebagai  penulis dan sebagai editor (penyunting). Kedua fungsi itu sama-sama  diperlukan, tetapi Anda tak bisa menjalankan dua fungsi itu pada saat  bersamaan. Jadi, Anda harus memisahkannya. Pertama, Anda berfungsi sebagai  penulis dan mencipta tulisan. Sesudah itu, barulah Anda berfungsi sebagai  editor yang mengoreksi dan merevisi tulisan itu.

Tulis ulang: Pertajam pikiran Anda.
Tulisan (draft) pertama, itu seumpama intan yang belum diasah. Jika  dipaksakan untuk dijual, harganya masih murah. Untuk membuatnya menjadi  bernilai tinggi, Anda harus mengasahnya, merevisinya, menyempurnakannya.

Penulis yang sehebat apapun tidak pernah menulis dengan sekali jadi.  Sebuah tulisan bisa mengalami proses revisi atau perubahan di sana-sini,  sampai akhirnya mencapai bentuk akhir yang betul-betul final. Jadi,  sebenarnya tidak ada great writers. Yang ada adalah great rewriters. Cara  terbaik adalah tulislah sampai betul-betul selesai. Kemudian, Anda baca
dari awal dan revisi di sana-sini.

Lebih bagus lagi, jika Anda bisa menggunakan resep penulis cerita  horror terkenal, Stephen King. Mintalah 10 orang lain (bukan anggota  keluarga Anda) untuk membaca tulisan Anda dan memberi komentar. Lalu, Anda  membuat sejumlah perbaikan setelah mendengar masukan mayoritas. Kalau 8  dari 10 orang yang dimintai komentar mengatakan, tulisan Anda sulit  dimengerti, tampaknya tulisan Anda memang perlu diperbaiki. Tetapi jika cuma satu orang yang punya komentar berbeda, tak usah risau. Anda tentu  tidak bisa memuaskan semua orang.

Menguji (testing): Latih pikiran Anda.
Menguji berarti mengakui bahwa Anda belum cukup cerdas untuk mengetahui  semua keinginan orang lain. Anda tak bisa menebak-nebak. Jadi, buatlah  tulisan terbaik, kemudian revisi, perbaiki dan sempurnakan. Lalu,  serahkan pada pasar. Lihatlah, apakah tulisan iklan Anda berhasil menarik  orang untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

Berkat adanya Internet, kita bisa menguji suatu tulisan dengan lebih  mudah. Kirimkan e-mail ke sejumlah orang, buatlah situs web sendiri, atau  pasang iklan di Google. Dari reaksi yang muncul, Anda bisa menguji  tulisan Anda.

Selain lima langkah dalam strategi itu, ada sejumlah tip bagi mereka  yang mau mempraktikkan hypnotic writing:

Tip I:
Untuk memperoleh efek “hipnotis,” sebuah tulisan perlu memasukkan  aspek: punya makna, dapat dimengerti, dan  emosional.

Contoh 1:
Sebuah iklan di majalah berbahasa Italia menawarkan alat masak untuk  membuat pizza. Namun, karena Anda sama sekali tidak paham bahasa Italia,  maka sebagus apapun narasi iklan itu dibuat, tidak akan ada pengaruhnya  bagi Anda.

Contoh 2:
Artikel di sebuah majalah psikologi, yang ditulis dengan gaya bahasa  yang “datar,” berbunyi kira-kira begini: “Emosi itu sangat penting  untuk disalurkan. Jika kita menahan emosi, hal itu bisa berdampak buruk  bagi kita.” Meskipun kalimat ini mudah dipahami, pilihan kata yang  digunakan kurang menyentuh emosi pembaca.

Bandingkan dengan narasi seperti di bawah ini, yang dengan sengaja  mencoba menyentil sisi emosional pembaca: “Meredam emosi itu seperti  membuat bom. Jika Anda mengubur emosi, itu seperti menekan bom yang siap  meledak.”
Terasa betul bedanya, bukan?

Tip II:
Hypnotic writing harus berfokus pada ego dan kepentingan si pembaca,  bukan pada ego dan kepentingan si penulis sendiri. Kecuali kalau Anda  cuma mau menulis buku harian untuk dibaca sendiri.

Contoh :
Seorang pengusaha, katakanlah bernama Benny, mengirim surat atau  tawaran kerjasama bisnis kepada Anda. Isinya menyebutkan, ia sedang mengalami  kesulitan keuangan. Ia sangat membutuhkan terwujudnya kerjasama bisnis
itu, untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Tapi dalam surat itu,  Benny sama sekali tidak menyebut-nyebut prospek keuntungan bisnis yang akan  Anda peroleh.

Lantas apa reaksi Anda? Tentu saja tawaran Benny itu menjadi sangat  tidak menarik. Si penulis surat itu terlalu asyik dan terfokus pada ego  dan kepentingannya sendiri, dan melupakan kepentingan orang yang dikirimi  surat, yaitu Anda. “Ya, saya paham bahwa saudara Benny memang sedang  susah. Tetapi saya juga punya masalah saya sendiri. Jadi, silahkan
cari saja orang lain yang mau diajak bekerjasama bisnis dengan saudara  Benny.” Begitulah kira-kira reaksi Anda.

Tip III:
Jangan terobsesi dengan kesempurnaan. Banyak kasus di mana seorang  penulis baru menulis satu paragraf. Kemudian, ia langsung menilai isi  paragraf itu tidak menarik. Paragraf itu dihapus, dan kemudian ia mulai  menulis lagi dari awal. Dan, setiap ia merasa tulisan yang baru separuh  atau sepersepuluh jadi itu tidak bagus, langsung saja tulisan itu ia buang  ke keranjang sampah!

Dengan cara demikian, tulisannya tentu saja tak pernah selesai tuntas.  Maka, tulislah sampai tuntas, dan baru kemudian Anda merevisi,  memperbaiki, dan menyempurnakan.
Tip IV:
Berilah suatu pilihan pada pembaca, tetapi pilihan itu harus bersifat win-win bagi Anda dan pembaca. Pilihan untuk membeli atau tidak membeli, bukanlah pilihan yang baik (kalau pembaca tidak membeli, berarti kerja Anda sia-sia).

Berilah pilihan seperti: “Apakah Anda ingin membeli televisi Samsung ini sekarang atau nanti?” (Apakah pembaca membeli sekarang atau nanti, dia tetap membeli produk Anda). Pilihan ini berimplikasi bahwa si pembaca memang menginginkan produk tersebut, terlepas apakah dia akan membeli sekarang atau nanti.

Tip V:
Ketika Anda menulis sebuah naskah iklan, mungkin Anda perlu mengubah persepsi pembaca agar mereka terbujuk membeli produk atau jasa yang Anda tawarkan. Ini bukan berarti Anda harus membuat penyataan bohong atau
mengecoh pembaca. Itu tidak etis dan melanggar hukum. Anda bisa mengubah persepsi pembaca tanpa perlu berbohong. Tetapi ini tergantung pada bagaimana cara Anda menggambarkan produk yang mau ditawarkan.

Ada beberapa cara:

Pertama, dengan membuat perbandingan. Teknik ini disebut kontras (contrast). Misalnya, jika produk yang Anda tawarkan itu cukup mahal, buatlah agar harga itu seolah-olah kecil dengan membandingkan pada sesuatu
yang lebih mahal. Penjual properti kadang-kadang mengeksploitasi efek kontras ini, dengan menunjukkan daftar harga sejumlah properti lain yang harganya berlebihan (overpriced), sebelum akhirnya menunjukkan harga properti yang betul-betul mau ditawarkan.

Kedua, dengan mengasosiasikan produk itu dengan sesuatu yang bernilai tinggi. Biarkan pembaca membayangkan dirinya dengan produk tersebut.  Kalau Anda menyatakan, Ariel Peterpan memiliki sedan Toyota Yaris berwarna merah, kenyataannya memang demikian. Anda tidak berbohong atau mengecoh pembaca. Tetapi, pembaca akan membayangkan, kalau mereka mengendarai Toyota Yaris berarti mereka sama seperti Ariel Peterpan, seorang artis kelas atas, atau minimal selera mereka sama dengan selera Ariel Peterpan.

Bayangkan kalau Anda mengatakan bahwa warna Toyota Yaris itu mirip warna pispot! Pispot berasosiasi dengan sesuatu yang jorok, kotor, dan memualkan. Tak akan ada pembaca yang berpikir untuk membeli mobil yang warnanya seperti pispot!

Puncak, Oktober, 2007

*** Disadur dan diadaptasi untuk konteks Indonesia oleh Satrio Arismunandar, berdasarkan konsep yang diutarakan John Vitale dalam bukunya: Hypnotic Writing, How to Seduce and Persuade Customers with Only Your Words (Penerbit John Wiley & Sons, Inc, Hoboken, New Jersey, 2007).

Satrio Arismunandar

Damdim 0110 Abdya Bernyanyi

Posted November 26, 2007 by jaka
Categories: New

jaka_dandim-bernyayi-bersama.jpg